POJOK BACA : MEMUTUS RANTAI KETERTINGGALAN

*Artikel asli diposting di http://www.stc.or.id

Ketersediaan bahan bacaan menarik memang menjadi persoalan dengan efek berantai bagi anak-anak sekolah dasar di wilayah terpencil. Tanpa bahan bacaan menarik, mereka tidak tergugah untuk membaca. Akibatnya, mereka menjadi tidak lancar atau bahkan tidak bisa membaca sama sekali. Tanpa kemampuan membaca, anak-anak akan kesulitan memahami pelajaran yg diberikan di sekolah.
 
Anak-anak di pelosok seringkali kekurangan bahan bacaan menarik. Bandingkan dengan anak-anak di kota besar yang memiliki akses terhadap bahan bacaan menarik yang melimpah. Bahkan ketika mereka keluar selangkah dari rumah, berbagai poster dan papan reklame warna-warni dengan tulisan besar sudah menggoda mereka untuk mengeja huruf demi huruf yang terpampang.
 
Di Kabupaten Malaka, NTT, Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mitra Save the Children mencoba mengurai persoalan itu dengan mendirikan Pos Baca di desa-desa dampingan dan mendistribusikan ratusan buku bacaan anak ke sana.
 
Sore itu, satu persatu anak muncul di rumah Yohanis Unpias atau yang biasa disapa pak Anis. Ia merupakan relawan Pos Baca di Desa Looneke, Kabupaten Malaka. Anak-anak tersebut berkumpul di teras rumahnya yang tidak seberapa besar ukurannya.
 
Saat yang berkumpul sudah lumayan banyak, pak Anis kemudian menarik ke luar dua kotak besar dari dalam rumahnya. Di dalam kotak itu ada ratusan buku bacaan. Anak-anak yang sudah datang sejak tadi langsung menyerbu kotak-kotak tersebut. Usai memilih-milih buku, mereka beranjak ke sudut-sudut teras rumah pak Anis untuk membaca atau sekedar melihat gambar-gambar yang ada di buku. Ada juga yang membentuk kelompok dan membaca buku secara bersama-sama.
 
Aktivitas tersebut berlangsung tiap pekan di kediaman pak Anis. Selain menjadi relawan Pos Baca, ia juga mengijinkan rumahnya digunakan sebagai tempat berkumpul dan membaca bagi anak-anak setempat.
 
Pak Anis sudah lama memiliki keprihatinan atas kemampuan baca anak-anak di desanya. Sayangnya, saat itu ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Hingga suatu hari di tahun 2016, YSTC datang di desanya dengan program Pos Baca dan membuka kesempatan bagi dua orang untuk menjadi tenaga relawan yang bersedia mengelola kegiatan di Pos Baca. Tanpa pikir panjang, pak Anis langsung menawarkan dirinya. Baginya, ini adalah kesempatan yang dapat menjawab keprihatinannya selama ini.
 
“Sejak dulu banyak sekali orangtua di sini yang mengeluh karena anak-anaknya sulit membaca meski sudah duduk di kelas 5 atau 6 SD. Bahkan ada juga anak SMP yang kemampuan bacanya masih sebatas mengeja,” kisah pak Anis.

Mengakrabkan Anak dengan Bacaan
 
Pos Baca dihadirkan YSTC untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Buku-buku yang disediakan di Pos Baca dipilih dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan anak. Selain itu, karakter buku-buku bacaan juga harus bisa menarik minat anak, misalnya dengan gambar dan warna menarik serta tulisan yang memudahkan mereka untuk membaca.
 
Kegiatan di Pos Baca tak sebatas membaca buku saja. Ada juga kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak, di mana para relawan seperti pak Anis yang akan menjadi fasilitatornya. Kegiatan-kegiatan ini seperti memperkenalkan nama benda-benda melalui gambar dan juga membacakan cerita kepada semua anak yang hadir lalu menguji daya tangkap mereka dengan mengajukan pertanyaan seputar cerita yang baru saja dia bawakan.
 
“Beberapa bulan terakhir daya tangkap anak-anak di sini terhadap cerita meningkat bagus. Dulu mereka lebih banyak diam dan menerawang jika saya mengajukan pertanyaan dari bacaan. Sekarang, mereka sudah saling berebut untuk menjawab,” ungkap pak Anis dengan bangga.
 
Pos Baca di Desa Looneke adalah satu dari delapan Pos Baca yang diinisiasi oleh YSTC melalui project CERIA (Children in Early grades Reach Incredible Achievement). Sejak pertama diinisiasi pada 2016 silam, ratusan buku sudah didistribusikan ke delapan Pos Baca tersebut. Selain mendukung Pos Baca dengan menyediakan buku, project yang didanai oleh H&M Foundation ini juga membantu menyediakan alat-alat tulis dan berbagai kelengkapan belajar lainnya. Pada November 2017 lalu, Pos Baca binaan pak Anis ini juga mendapat tambahan buku bacaan dari lembaga Room to Read yang semakin memperkaya pilihan bahan bacaaan yang ada.
 
Aktivitas membaca anak-anak di teras rumah pak Anis ini lambat laun menarik perhatian pemerintah desa setempat. Saat ini, sebuah bangunan serbaguna tengah dikerjakan tak jauh dari rumah pak Anis. Bangunan itu sebenarnya diperuntukkan untuk kegiatan Posyandu. Namun, karena kegiatan Posyandu hanya berlangsung sebulan sekali, maka waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan Pos Baca.
 
Pak Anis merasa senang dengan dukungan tersebut karena ini berarti anak-anak tak lagi perlu duduk berhimpit-himpitan di teras rumahnya. Saat ini terdapat 60-an anak yang terdaftar di Pos Bacanya, dengan tingkat kehadiran rata-rata sebanyak 25-30 anak tiap pertemuan. Pukul 17.30 sore, kegiatan di Pos Baca binaan pak Anis akhirnya berakhir. Sebelum berpamitan dan pulang satupersatu, anak-anak diberi kesempatan untuk menuliskan kesan tentang apa yang mereka sukai dan yang tidak sukai terkait kegiatan di Pos Baca pada hari itu.
 
Usai semua anak pulang, yang tersisa di teras rumah pak Anis tinggal jejakjejak kaki mungil di tanah yang basah usai hujan yang turun siang sebelumnya. Sementara yang dibawa mungkin adalah sepotong pengetahuan dari buku yang baru saja mereka baca atau dari kisah yang pak Anis ceritakan di Pos Baca tersebut.

Leave a comment