Bagi setiap kota, menjadi populer serta dikenal luas itu penting. Setidaknya untuk kepentingan ekonomi dan investasi pembangunan. Tapi bagi kota Poso, popularitas yang ada saat ini adalah mimpi buruk yang coba ditaklukkan.
Akhir 1990-an silam Poso menjadi salah satu korban krisis multidimensi yang dialami negeri ini. Ekonomi yang memburuk, pergantian rezim, dan krisis kepercayaan kemudian menjadi pemantik api ke seantero negeri. Ada konflik antar suku di Kalimantan, adapula pertikaian antar pemeluk agama di Maluku dan Poso. Upaya pemulihan kemudian dilakukan di semua lokasi itu. Tapi bagi kota Poso, prosesnya mungkin berlangsung lebih lambat. Ketika Ambon dan kalimantan serta tempat-tempat lain sudah relatif mereda dan sunyi dari pemberitaan, kita masih mendengar kekerasan atau teror terjadi di kota ini dan wilayah sekitarnya. Di Media, Poso masih terus-menerus hadir dengan wajahnya yang penuh luka. Bahkan hingga hari ini, terorisme dan gerombolah bersenjata masih menyeruak dan seakan menjadi satu-satunya paspor bagi kota ini untuk bisa muncul di pemberitaan nasional. Kekerasan dan teros kemudian menjadi pengingat orang akan kota Poso, terutama mereka yang berada di luar sana.
Tapi sesungguhnya keadaan tidak seburuk itu, setidaknya bagi kami yang hidup di kota ini. Masa lalu yang kelam itu memang belum sepenuhnya lenyap, namun terlihat semakin terdesak di hari-hari ini. Pembangunan dibanyak tempat, interaksi antar komunitas yang dinamis, dan berbagai kegiatan meriah adalah rutinitas keseharian di kota ini. Warga disini hidup normal sebagaimana orang lain di luar sana. Semua berjalan seperti apa adanya. Hanya saja memang, media-media mainstream tak akan punya ruang untuk menceritakan tentang keadaan yang ‘berlangsung apa adanya’ ini. Sehingga yang tertinggal digagasan banyak orang adalah bahwa kota ini masih berwajah seram.
05.20 WITA
Pemandangan saat lepas subuh ke arah masjid tertua di Kota Poso. Entah kapan berganti, Masjid ini dahulu bernama Masjid Jami atau Masjid Tua. Letaknya pun berada di kawasan kota Tua Poso yang kabarnya akan direvitalisasi untuk kebutuhan pariwisata. Saat ini Masjid ini sudah berganti nama menjadi masjid An-Nur. Menariknya, masjid ini berada dalam satu kompleks dengan dua sekolah yang bina oleh dua ormas Islam dengan basis massa terbesar di daerah ini, yaitu Muhamadiyah dan Al Khairat.

06.00 PANTAI IMBO
Di tiap akhir pekan, pantai ini akan bersesak dengan para pengunjung yang ingin berendam atau sekedar duduk menikmati suasana pantai. Di hari-hari lain, semenjak pagi buta, tempat ini menjadi semacam tempat penyembuhan. Air laut di area sini dipercaya oleh sebagian orang memiliki manfaat terapik. “Kadar garamnya jauh lebih tinggi dibanding pantai-pantai lain”, begitu mereka menyebut alasannya. Orang-orang dengan berbagai macam keluhan kesehatan, terutama stroke, bisa ditemui disini. Tentu saja belum ada hasil riset yang mengukuhkan kepercayaan itu.
Sebagai tempat rekreasi, pantai Imbo sendiri justru punya asal-usul nama yang kelam. Imbo adalah nama dari seorang yang ditembak mati oleh penembak misterius tepat di lokasi pantai tersebut. Itu terjadi sewaktu kota ini masih dicekam konflik horizontal beberapa tahun silam.

07.50 WITA
Lapak penjual ikan di dalam kompleks Pasar Baru Poso. Hampir pukul 8 pagi, namun aktifitas belum terlihat ramai. Relokasi para pedagang dari pasar lama yang terletak di tengah kota ke kompleks Pasar Baru ini hingga kini masih meninggalkan polemik. Sejumlah pedagang enggan dipaksa pindah. Ada yang karena alasan jarak, dan ada pula yang enggan pindah karena belum kebagian tempat. Lapak Ikan di pasar baru ini juga masih terlihat lenggang. Banyak meja-meja yang ditinggal kosong, karena penjualnya lebih memilih menjajakan ikan di tempat lain. Namun belakangan, seiring dengan semakin ramainya pengungjung di Pasar baru ini, semakin banyak pula pedagang yang memutuskan masuk.

08.30 WITA
Usai melakukan bongkar muatan ikan, para pekerja kapal merapihkan kembali jaring yang digunakan sekaligus membersihkan dari ikan-ikan kecil yang masih terjerat. Kapal motor penangkap ikan seperti ini beroperasi di wilayah teluk Poso. Biasanya mereka berangat pada sore hari dan kembali ke TPI pada esok paginya. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka selain untuk kebutuhan konsumsi dalam kota, juga di distribusikan ke wilayah Selatan.

10.15 WITA – RUANG TUNGGU RSUD POSO
Para pasien di RSUD Poso tengah menantikan namanya dipanggil untuk mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Jumlah penduduk yang semakin membengkak di wilayah ini ikut berkontribusi pada meningkatnya jumlah orang-orang yang membutuhkan layanan dasar, termasuk kesehatan. Tiap hari kerja, ruang tunggu terus disesaki oleh para pasien. Di rumah sakit ini ada sekitar 170 tempat tidur bagi mereka yang mesti menjalani rawat inap. Formasi dokter spesialis lumayan lengkap. Fasilitas stroke center juga tersedia dan menjadi layanan andalan di RUSD ini.

11.20 WITA – PELABUHAN POSO
Ratusan Ton Karnel kelapa Sawit tengah dimuat ke atas Kapal Pengangkut yang tengah bersandar di Pelabuhan Poso. Hasil bumi ini nantinya akan di bawa ke tempat pengolahan selanjutnya di Pulau Kalimantan. Di wilayah tenggara Kabupaten Poso yang berbatasan dengan Kabupaten Marowali memang diketahui terdapat sejumlah lahan perkebunan kelapa sawit. Karnel yang tengah dimuat ini sendiri berasal dari Perkebunan di daerah Tomata, sebelah tenggara kota Poso. Dalam tiga tahun terakhir, volume bongkar muat rata-rata di Pelabuhan ini berada diangka 80.000 ton. Rotan, kakao dan kayu bulat adalah komoditi teratas dalam perdagangan antar pulau.

16.30 WITA– KAWASAN MUARA
Air kuala (Sungai) Poso yang mengalir dari wilayah selatan dan membelah kota ini menjadi dua bermuara disini. Sebagaimana banyak kota lain, area muara seperti ini biasanya memang merupakan area yang padat penduduk karena lokasinya yang begitu strategis. Nilai manfaat dari tinggal di area pertemuan antara air laut dan sungai juga banyak. Laut sebagai sumber pencaharian ekonomi, dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan keseharian seperti mandi dan mencuci. Wilayah muara ini juga dikenal sebagai penghasil material pasir untuk kebutuhan konstuksi dalam skala kecil.

17.20 WITA – GOR PUSALEMBA
Kompleks olahraga favorit bagi warga kota. Gedung olahraga yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah. Di luar gedung, terdapat arena basket dan futsal serta fasilitas panjat tebing. Semangat ‘olahraga’ sebagai bagian dari gaya hidup yang kini merasuki kota-kota besar diluar sana juga menemukan celahnya untuk sampai di kota kecil ini. Gaya berpakaian populis, kemudian perangkat elektronik yang seakan sudah menjadi bagian penting mudah dijumpai disini. Komunitas olahraga seperti modern dance atau street workout juga mulai tumbuh perlahan dan menjaring semakin banyak pengikut.

18.16 WITA – DEPOT PERTAMINA
Senja yang menandai datangnya malam, tidak selalu berarti waktu beristirahat. Sebab bagi sebagian orang, itu justru adalah penunjuk waktu untuk dimulainya aktifitas. seorang pemancing dengan ditemani oleh anak lelakinya tengah mencoba peruntungan, sebab konon ikan-ikan lebih agresif di malam hari.
Letak Kota Poso yang berada di dalam di teluk, membuat senja di pesisir kota ini tak sepenuhnya bisa menyajikan keindahan matahari yang sedang tenggelam. Hal terbaik yang bisa dinikmati hanya bias cahayanya yang beraneka warna. Salah satu tempat terbaik untuk menyaksikannya adalah di pantai tepat disamping depot Pertamina ini. Di waktu-waktu tertentu, kapal pengangkut minya yang tengah lego jangkar bisa menambah keindahan yang disajikan oleh alam.

19.30 WITA – MALL POSO CITY
Ada geliat dan antusiasme ketika sebuah Pusat Perbelanjaan sekelas Mall mulai beroperasi di kota ini. Malam minggu, ratusan orang datang dan menghabiskan waktu bersama karib kerabat dan keluarga menikmati hal-hal yang mungkin terasa baru bagi sebagian besar mereka. Poso City Mall (PCM) di bangun sejak pertengahan 2014 silam. Pengerjaan belum sepenuhnya selesai namun beberapa gerai dan tenant sudah mulai beroperasi. Tempat bermain anak-anak, tempat berkaraoke hingga perusahaan retail papan atas sudah tersedia. Menurut pihak investor, tidak ada keraguan pada mereka tentang situasi dan kondisi keamanaan di tempat ini.

20.00 WITA – PERTOKOAN POSO
Pedagang tas tangan membuka lapak di depan sebuah toko kelontong dalam kompleks pertokoan Poso yang tutup diwaktu malam. Pedagang semacam ini banyak ditemui diseantero kota dan mereka memanfaatkan berbagai macam ruang untuk menjajakan dagangannya. Selain teras toko seperti ini, adapula yang berjualan diatas mobil bak terbuka. Kompleks pertokoan Poso sendiri masih menjadi titik penting aktifitas perdagangan di kota ini. Dan sudah seperti itu sejak lama. Namun peta ini kemungkinan akan berubah. Dipindahkannya pasar rakyat yang semula berada tepat di depan kompleks pertokoan ini ke wilayah selatan, kemudian kehadiran Mall Poso City di wilayah barat kemungkinan besar akan merangsang kehadiran pusat-pusat pedagangan baru di wilayah tersebut.

21.35 WITA – KAFE
Malam adalah waktu untuk berhimpun dan merawat relasi sosial. Di Kota ini, kafe-kafe mulai tumbuh dan semakin populer sebagai sebuah ruang publik. Memang, belum banyak alternatif tempat melepas lelah di malam hari, karena itulah kafe menjadi pilihan utama. Para pendatang yang berstatus pekerja, termasuk ratusan aparat negara yang hadir disini sebagai bagian dari operasi pemulihan kemanaan, adalah pangsa yang menjanjikan. Semakin banyak orang yang ingin terlibat. Kafe 5758 ini, misalnya, di kelola dengan gaya populis oleh sekelompok anak muda anggota Lembaga Dakwah Kampus di Universitas lokal.

23.41 WITA – Pusat Kota
Kebutuhan perut memang tidak pernah berbatas waktu. Tidak banyak kehidupan yang tetap bertahan di kota kecil ini sampai larut malam selain mereka yang menjajakan makanan. Beberapa tenda kecil dengan lampu penerangan seadanya bisa ditemui sepanjang poros jalan utama kota. Mereka biasanya melayani hingga lewat tengah malam atau bahkan hingga menjelang adzan subuh. Sedangkan bagi penjual nasi uduk ini, tanda untuk menutup lapak itu hanya satu : “sampai nasi-nya habis, Mas”. Dari dalam warung, terdengar musik diputar dengan agak keras. Mungkin untuk menarik pengunjung atau mungkin juga untuk membuat mereka tetap terjaga. Mereka, orang-orang yang bertahan hingga hari berganti dan kehidupan berulang kembali. Tanpa ada rasa takut, tanpa rasa khawatir tentang masa lalu yang pernah terjadi di kota ini.
