Leaving on Jet Plane

Pukul xx.xx  . . . Saya sebenarnya tidak tahu persis pukul berapa saat saya menuliskan catatan kecil ini. Yang pasti, saya baru saja menyelesaikan hidangan ala kadarnya yang disediakan oleh pihak Maskapai. Nasi se-uprit,  ayam saus yang entah dimasak bagaimana, serta puding ice cream dan potongan buah segar sebagai penutup.  Tapi, kalau boleh berkira-kira, mungkin sudah lebih 4 jam semenjak saya dan pesawat ini (dengan penumpang lainnya tentu saja) meningggalkan bandara internasional Soekarno Hatta, sekaligus meninggalkan Indonesia.

Oh iya, sebenarnya, sedikit informasi tentang perjalanan bisa saya dapatkan di ymonitor kecil yang berada tepat di depan saja. Fasilitas multi media seperti ini tentunya sudah standart bagi maskapai ber-level Internasional. Fasilitasnya juga sudah standar : Koleksi film, lagu-lagu (yang kebanyakan tidak kuakrabi), games (yang sama sekali tidak menarik) dan lain-lain.  Namun, ada juga info update tentang posisi pesawat dalam perjalanannya menuju Sidney. Saya lebih tertarik dengan fasilitas ini.  Hmm, kalau boleh saya sampaikan, saat menulis di kalimat ini, pesawat  hampir menyentuh bibir pantai barat Australia  (sekitar kawasan Port Haeland) setelah menyeberangi samudra Hindia  –dan laut Indonesia tentunya–.  Di monitor info ini juga tertera keterangan bahwa sekitar 4 jam lagi baru pesawat akan tiba di Sydney.  Sayang memang, perjalanan ini berlangsung malam.  Tak ada yang bisa di lihat dibawah sana.

Dalam sehari ini, saya menempuh 2 kali perjalanan dengan 2 pesawat berbeda. Ya, di siang sebelumnya, saya menumpang Garuda Indonesia yang mengantarku dari Denpasar ke Jakarta.  Berikutnya, di pesawat ini, Qantas Airways, maskapai asal Australia yang dahulu pesawatnya hanya bisa di lihat melalui iklan televisi.  Satu hal yang menarik dari maskapai ini adalah awak kabinnya kesemuanya  sudah tidak lagi tergolong muda. Saya tidak tahu apakah ini berlaku di semua penerbangan Qantas, atau hanya di pesawat ini fenomena itu bisa terlihat. Jujur saja, saya termasuk orang yang tidak terlalu kerap bepergian. Namun, dalam kesempatan yang sedikit itu, ada kesimpulan di kepalaku bahwa Mereka yang yang menjalankan tugas sebagai pelayan penumpang mestinya masih muda, dan menarik. Dan kesimpulan itu, tuntas terbantahkan di penerbangan malam ini.

 Ahhh,  mungkin tak baik berceloteh terlalu lama tentang awak kabin itu.  Toh mereka juga bisa melayani dengan sangat baik . . . .

***

(Dibagian ini mata mulai ngantuk)

Ketersediaan tulisan ini, mungkin sedikit terbantu dengan kenyataan bahwa saya mesti duduk terpisah dengan rkan-rekanku yang lain, sesama penerima Beasiswa ADS 2011.  Tempat duduk-ku bernomor 58 K, yang letaknya nyaris di bagian paling belakang.  Sepanjang mata memandang, tak ada yang di kenali. Padahal, jumlah kami yang check-in bergerombol di bandara Soetta sore sebelumnya lumayan banyak.

Letak positif dari posisi yang ‘teralienasi’ ini adalah saya hanya duduk sendiri.  Tak ada penumpang lain di sebelahku.  Tak ada yang mesti diajak bercerita, dan tak ada yang menyulitkan jika  hendak melakukan sesuatu (ke toilet, misalnya). So, saya punya kekuasaan yang lebih luas dari yang lain. Segera, tas ransel kuturunkan dari loker atas.  Terlalu banyak benda yang kubutuhkan dari tas yang baru bersamaku dua pekan terakhir ini. Double selimut juga menjadi berkah tersendiri. Selimut di kursi yang tak bertuan di samping-ku itu menjadi benteng tambahan untuk suhu yang mulai membuat badan menggigil.  

***

(lampu pesawat Mulai di padamkan, ngantuk makin menjadi)

Cahaya yang ada tinggal dari laptop yang kugunakan mengetik. Satu-satu, penumpang di sekitarku mulai mematikan fasilitas hiburan mereka.   “Sebentar lagi aku menyusul” guman-ku dalam hati . . . . . .

****

Lampu pesawat kemudian menyala.  Namun sekali lagi, tidak pukul berapa waktu apa saat ini. Di luar jendela, cahaya mulai bergerak perlahan menuju terang.  Tapi apa yang ada di bawah sana tak begitu jelas bagiku, karena kaca jendela sedikit muram. Teringat fasilitas Flight Path yang semalaman ku kutak-katik, aku menggunakannya lagi. Ada keterangan bahwa jarak pesawat ini dari tujuan (Sydney) tersisa 45 menit. Keterangan lain menyebutkan kalau posisi pesawat berada di atas Wagga-wagga.

“Coffee or Tea, Sir ?”  Suara seseorang tiba-tiba hadir mengejutkan.  Ternyata awak kabin tengah membagikan  breakfast saat itu. Seorang Pria gempal yang tak muda lagi tersenyum ramah dengan nampan yang sudah terisi kue bolu hangat.  Tinggal menentukan minuman, Kopi atau teh. 

“Coffee, please !!”  jawabku masih setengah sadar . . .

Segelas kecil kopi, Bolu hangat ditambah air jeruk kemasan, hadir dihadapanku dan menjadi penanda pagi pertamaku di benua lain ini . . . . . Oh iya, di bawah sana, daratan mulai terlihat, meski tak begitu jelas

#Masih banyak yang ingin ditulis, tapi suara dari petugas penerbangan kembali terdengar, dan sepertinya kita mesti mempersiapkan diri  untuk pendaratan#

Leave a comment